Kisah Masa Lalu dan Masa Depan di Dalam Novel KISAH

•Desember 1, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sepatah Kata

Novel ini memang belum terbit secara resmi sebagai sebuah buku. Namun, sejumlah bab dari novel ini bisa dibaca bebas di situs Kemudian.com.

Novel ini ditulis oleh Penulis (saya sendiri). Dan telah beberapa kali mengalami perombakan.

Bagaimana Sejarah Penulisan Novel ini?

Novel ini pertama kali digoreskan di atas kertas pada pertengahan bulan Juni 2004. Saat itu, novel KISAH hanya berfokus pada sedikit konflik dan lebih menjurus ke novel remaja fiksi ilmiah biasa. Konflik yang diangkat hanyalah tentang pencurian giganium, serbuan hujan meteor, dan kisah asmara antara beberapa tokoh utamanya.

Pada pertengahan tahun 2007, penulisan ulang kembali berlangsung dan terus dilakukan hingga saat ini (akhir 2008). Pada penulisan ulang tersebut, novel KISAH yang semula tanpa bab, mulai dibagi-bagi ke dalam belasan bab (rencananya hingga delapan belas bab). Penambahan karakter seperti Prof. Irene, Ayu, istri beserta putri Veren, dan beberapa konflik semakin memanaskan novel KISAH.

Dalam penulisan ulang tersebut, juga terjadi pergeseran seting waktu masa depan. Semula yang hanya berkisar di tahun 2300-an, kini semakin menjauh ke tahun 3000-an. Jauhnya masa ini akibat disisipi timeline dari konsep-konsep novel lainnya milik penulis. Konsep-konsep ini dipandang perlu, selain untuk menyampaikan pesan yang mendalam, juga sebagai pelengkap dan penjelas mengenai sebab-sebab beberapa konflik yang terjadi.

Rentang waktu yang kosong antara 2000-an dan 3000-an diisi oleh kilasan Masa Perang Dunia Ketiga, Masa Koloni, dan Perang Kosmik. Untuk lebih mengakomodir apa yang sebenarnya terjadi selama rentang waktu ini, maka dibuatlah sebuah bab berjudul Garis Waktu.

Sekarang, novel KISAH mulai mendekati novel fiksi ilmiah dengan bumbu sedikit teenlit, konflik politik, perang, dan cinta.

Sinopsis

Perampokan Laboratorium DIVENN malam itu, membawa Astro dan seorang gadis yang ia sandera ke gedung Borneolab Technology Inc. Di salah satu laboratorium yang dimiliki perusahaan itu, tersimpan mesin waktu yang kemudian membawa mereka terlempar ke masa 2000-an. Sebelum pergi, Astro meninggalkan oleh-oleh berupa granat.

Ledakan yang tercipta memang tidak begitu besar, namun mampu merusak mesin waktu dan melukai Alisya, seorang anggota DINA yang berniat sekali menangkap pria itu. Ia terluka parah. Dokter Karim pun terpaksa menyuntik fibergen3 untuk menyelamatkan nyawanya.

Dalam satu minggu, perbaikan mesin waktu akhirnya rampung. Alisya dan Gaya yang telah sembuh segera diterjunkan dalam misi pencarian Astro. Selain mereka, juga disebar anggota dari MABES POLRI dan beberapa anggota DINA lain di bawah naungan Unit Pemburu pimpinan Veren.

Selama pengejaran ini, Bumi pada masa depan terancam oleh serbuan asteroid. Meriam pelindung yang dimiliki Indonesia tidak bisa melakukan banyak hal, karena giganium versi terbaru mereka dibawa lari oleh Astro.

Di antara rombongan asteroid itu, terdapat puluhan bunker nuklir yang mampu meremukkan berpuluh-puluh planet. Entah apa jadinya jika jatuh ke Bumi. Dan untuk mengatasi hal tersebut, setiap negara yang mencoba menyembunyikan kemampuan militer mereka, terpaksa menerjunkan apa yang selama ini mereka simpan. Pasukan-pasukan jin (yang selama ini adalah mesin tempur primadona semasa Masa Koloni dan Perang Kosmik) kembali meluncur ke udara untuk menghancurkan bunker-bunker itu.

Di lain masa, Astro harus menghadapi pengkhianatan dari Morganred yang telah meminta jasanya untuk mencuri giganium. Dalam kondisi terluka dalam, ia harus menghadapi Hein yang telah menjalani Program HERCULES. Hein memang bertambah kuat, namun sepertinya ia masih belum bisa menandingi tiga generasi fibernetik yang tertanam di tubuh Astro. Pria itu terlempar hingga ke tengah jalan raya dan nyaris dilindasi mobil.

Pihak POLISI dan DINA pun mengalami sabotase dari Morganred. Mereka kehilangan Pos Jembatan Portal akibat ledakan bom yang dibawa oleh Viper dan Aries. Alisya dan Gaya yang tiba di lokasi akhirnya menghadapi kedua pemuda itu. Cukup sulit memang untuk menumbangkan mereka, karena keduanya telah menjalani Program HERCULES, namun dengan tingkatan yang lebih tinggi dibanding Hein. Pihak POLISI dengan Unit Gerbang akhirnya turun tangan.

Ulah Viper dan Aries ternyata membuat gedung DINA rata dengan tanah. Mesin waktu yang telah diperbaiki, kini lenyap permanen. Ayu yang pada saat itu berada di LABTEK, kini tidak muncul semenjak ledakan terjadi.

Kini, polisi tidak hanya harus menghentikan langkah Astro, melainkan harus berpacu dengan serbuan asteroid, puing-puing Koloni Cincin Zeus, serta serangan mendadak dari Morganred.

Ingin Baca?

Setidaknya, terdapat dua belas bab novel KISAH yang telah saya pajang di situs Kemudian.com. Tentunya, bab-bab tersebut masih belum sempurna, karena hingga sekarang (Desember 2008) masih dalam tahap peralatan dan penyempurnaan (semoga saja bisa lebih baik).

Silakan untuk menklik halaman Serambi Novel untuk taut bab-bab novel KISAH yang saya unggah di situs Kemudian.com.

Si Pinguin Akhirnya Mampir ke Rumah Enggang Gading

•November 23, 2008 • 1 Komentar

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya acara Roadhshow Linux 2008 mampir juga ke Kalimantan Barat, tepatnya di STMIK Widya Dharma, Jl. H.O.S. Cokroaminoto, Pontianak.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh PLUG dan STMIK Widya Dharma tersebut, hadir setidaknya dua narasumber. Antara lain Bapak Barry Laurens dari AXIOO Indonesia dan Bapak Farly Detrias dari PLUG.

Informasi yang diberikan oleh Bapak Barry berkenaan dengan bergesernya tren belajar mengajar, yang semula adalah berpusat pada guru, kini menjadi berpusat pada peserta didik. Beliau juga menjelaskan mengenai tren gaya hidup mobile, di mana laptop atau notebook menjadi alat penunjangnya. Beliau yang dari AXIOO tersebut juga menjelaskan mengapa AXIOO menyertakan paket Linux Mandriva dalam beberapa produk keluaran AXIOO. Antara lain adalah untuk menjaga kompatibilitas perangkat keras notebook yang diproduksi dengan peranti lunak yang disertakan. Dengan digunakannya Linux, pihak produsen bisa dengan mudah melakukan kustomasi maupun pengecekan.

Acara akhirnya berlanjut ke sesi pengenalan Linux oleh Bapak Farly. Yang mengagetkan, baru saja beliau usai menjelaskan tentang Linux, Open Source, GPL, dan segala tetek-bengeknya dengan ringkas, berbagai pertanyaan dari peserta langsung datang menyerbu.

Banyak pertanyaan yang terlontar adalah seputar kendala teknis, mulai dari cara instalasi, pengalaman peserta menggunakan Linux, dan berbagai problem teknis lainnya. Ini adalah bukti bahwa ternyata pengguna Linux tidaklah terlalu sedikit di tanah Borneo ini.

Selanjutnya adalah acara demo instalasi Ubuntu 8.04, yang dipraktekkan langsung oleh lima peserta dan dipandu oleh Bapak Farly.

Liputan ini juga terdapat di situs PLUG di http://plugweb.wordpress.com.

Kepingin Ikut KHIFFEST, tapi Mentok

•Agustus 4, 2008 • 1 Komentar

Ajang KHIFFEST yang diselenggarakan oleh Khatulistiwa TV, bekerja sama dengan SMA Negeri 3 Pontianak, akhirnya berakhir setelah pengumuman juara tanggal 27 Juli 2008 kemarin, di markas pusatnya Khatulistiwa TV.

Meski berupa ajang lokal dan pesertanya juga film-film lokal, tetap ada film-film yang layak diacungi jempol, seperti Negative, kemudian Behind D’skul (bener judulnya?) yang membuatku terharu. Ada juga Bai Cing Da Nante (yang dapat support penuh dari pemda setempat — meski berkesan agak gimana, tetapi itulah yang diperlukan oleh film-film lokal. SUPPORT! DUKUNGAN!), dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Total, ada sepuluh yang berhasil lolos seleksi dan ditayangkan di Khatulistiwa TV. Selanjutnya, dinilai oleh penonton lewat poling SMS.

Mau Ikut, tapi Mentok

Jujur, sejak diumumkan, saya penasaran ingin ikut, tapi persyaratannya adalah anak-anak sekolah. Yah, mau bagaimana lagi? Saya ini mahasiswa (di Universitas Terbuka).

Tapi, ada kabar (belum terbukti kebenarannya, sih) bahwa acara KHIFFEST akan menjadi agenda tahunan KTV (Khatulistiwa TV), dan untuk tahun depan, mungkin akan dibuka kategori mahasiswa dan umum. Setidaknya, itu membuat saya dan teman-teman mahasiswa maupun publik umum ikut senang. Soalnya, akan ada wadah untuk menyalurkan ekspresi seni mereka dalam bentuk audio visual di tanah Kalimantan Barat.

Tapi, saya lagi-lagi mentok. Semenjak pertama dengar kabar itu, saya langsung menggebu-gebu menyiapkan materi film yang akan saya ikutkan ke (insya Allah) KHIFFEST 2009. Mulai dari ide cerita, tools, hingga skenarionya. Eh, saking menggebunya, saya jadi kewalahan sendiri.

Masalah Satu: Jenis Film

Film yang akan saya buat adalah film animasi tiga dimensi. Untuk tools-nya, tidak ada masalah. Saya bisa memperoleh aplikasi 3D dengan lisensi free nan legal bernama Blender dari internet, bahkan distro yang saya pakai saat ini (BlankOn 3) di repositorinya (punya Ubuntu 8.04) sudah ada Blender (YafRay tidak disediakan, saya nekad kompilasi sendiri.). Tapi, untuk model 3D-nya saya bingung. Mau pakai manusia, atau boneka-bonekaan seperti film anak-anak? Secara…, lihat sendiri tema ceritanya.

Masalah Dua: Tema

Saya ini maniak fiksi ilmiah. Hampir semua karya tulis fiksi yang saya hasilkan baunya ditaburi unsur-unsur fiksi ilmiah. Begitu pula di tema yang akan saya angkat menjadi film. Meski awalnya bermasalah, toh, bisa diatasi dengan membuat ceritanya cukup sederhana.

Masalah Ketiga: Cerita

Ini yang paling sulit. Saya harus menyesuaikan dengan jenis film dan durasi film. Karena orang yang aktif dalam film ini mungkin hanya saya seorang, berarti film yang harus saya buat tidak boleh sampai 60 menit. Kalaupun sampai 60 menit atau lebih, kualitasnya akan sangat kurang (lebih banyak waktu terbuang dalam rendering, penganimasian, dan penyuntingan). Saya harus bisa membuat cerita yang pas dalam durasi maksimal 15 menit. Dengan itu, saya bisa fokus dalam pemodelan, rigging, dan penganimasian yang lebih detil.

Tapi, dasar maniak cerita yang dalam. Total, saya sudah membuat tiga skenario. Satu skenario terlalu panjang, yang kedua terlalu banyak konflik dan berpotensi untuk dijadikan film layar lebar atau novel, dan terakhir cukup pendek namun terlalu banyak memerlukan model (baik itu alam maupun model-model yang lain).

Masalah Lainnya: Dan Lain-lain

Yah, untuk sementara, segitu sajalah keluhan saya. Namun, terlepas dari segala masalah yang saya jumpai untuk mengikuti ajang ini, saya tetap berharap KHIFFEST akan terus diselenggarakan (ngomong-ngomong, FFII yang diusung oleh SCTV, kenapa tidak lanjut lagi, ya?). Meskipun hanya berhadiah tidak terbilang “wah”, namun bukan itu yang sebenarnya dikejar oleh para sineas muda saat ini (meskipun memang ada yang mengejar hadiah, tentunya itu nomor kesekian, setelah keinginan pertama adalah lolos seleksi dan ditayangkan di televisi).

Sineas-sineas ini pertama-tama sangat perlu yang namanya apresiasi, sehingga mereka yakin akan eksistensi mereka. Setelah mereka merasa dianggap ada, maka selanjutnya jalan akan lebih ringan. Mau tetap di jalur indie, atau masuk ke industri.