CD Nggak Bisa Dijadin Alat Kontrasepsi
Beberapa berpendapat, transfer-transfer data antarkomputer itu lebih baik pake CD ketimbang UFD (ato flash disk). Alasannya: katanya, sih, supaya nggak kena wabah HIV (hyper-infection viruses). Persentase keinfeksi sama virus bisa sangat tinggi kalo kita bagi-bagi data pake barang itu.
Tapi, apa itu 100% bener?
Eh, Virus yang Mana, nih?
Inget, ya? Yang dibicarain Gita di sini adalah virus komputer. Jadi, bukan virus manusia ato kutu kucing.
(Nggak biasanya kata ganti orang pertama pake Gita. Jangan terkecoh, ya? Baca, tuh, halaman Siapa Saya?)
Penyebaran Virus
Setahu Gita, virus bisa menyebar melalui beragam media. Mulai dari jaringan nirkabel seperti bluetooth dan infra merah, bisa pula merambat di kabel seperti kabel telepon (modem) dan jaringan (LAN maupun Internet).
Selain tersebar bebas seperti di atas, bisa pula menginfeksi korbannya melalui alat suntik (UFD), makanan (disket, CD, DVD), maupun transfusi saat direparasi.
Tingkat Kerentanan Masing-masing Medium
Kata orang-orang, sih, jaringan (baik kabel maupun nirkabel) masih menjadi medium yang sangat cocok bagi virus untuk menyebar dan berkembang biak. Liat aja ke warnet. Tiap kali Gita pulang dari sana, hampir selalu aja ada virus dalam UFD Gita. Pokoknya, udah kayak tempat maksiat. Salah-salah, pulang ke rumah, kompi kesayangan jadi ikut demam, dan syukur-syukur nggak mesti diopname dan akhirnya cuci darah ato meninggal.
Ati-ati juga kalo nge-net pake hotspot, GPRS, 3G, sharing bareng dengan bluetooth ato infra merah. Yang namanya hotspot, GPRS, dan 3G biasanya untuk penetrasi Internet. Ya, sama aja kayak kasus paragraf di atas. Begitu pun GPRS dan 3G. Selain itu, kita juga bisa keinfeksi kalo sering-sering bagi berkas yang nggak jelas via bluetooth/infra merah ponsel/komputer. Siap-siap aja. Tinggal tunggu ponsel kamu nelepon sendiri, nge-SMS sendiri, ato ketawa sendiri.
Ini udah kejadian (meski belum sangat parah). Malam kemaren waktu kakak sepupu Gita (yang juga namanya Gita) mampir ke rumah. Kakak pingin belajar komputer. Singkat kata, penjelasan sampe ke materi virus. Aku saranin supaya Kakak nggak sembarangan ngisi lagu (bajakan) di kios-kios atau bagi-bagi sama temen via dua koneksitas itu. Eh, baru dibilangin, waktu mau ngambil foto dari memori HP-nya, ketahuan, deh, ada sekitar lima virus di MC ponselnya. Satu di antaranya dari genus W32.Silly.Downloader dan lainnya Worm. Alhamdulillah, pake Linux. Makanya langsung bisa dibasmi.
Gimana dengan UFD? Yang ini, sih, jangan ditanya lagi. Barang mungil dengan kapasitas raksasa itu bisa diibarat sebagai jarum suntik bermata dua. Di lain pihak, bisa sangat ngebantu waktu transfer data. Di lain sisinya lagi, mirip banget sama jarum suntik untuk pesta narkoba. Makanya, beberapa orang jadi hiperprotektif kalo ngeliat UFD. Mati-matian nggak mau UFD nancep di CPU komputernya, kecuali dia sendiri udah yakin kalo UFD yang dipake udah steril.
Nah, untuk mengakali ini, beberapa orang lebih memilih CD ketimbang pake UFD. Katanya, sih, aman. Ga tahu, dapat informasi/logika dari mana. Mungkin, karena proses penulisan CD/DVD yang pake pembakaran. Jadinya, insya Allah, steril. Kuman-kumannya pada mati dibakar.
Ampun, deh.
Secara, CD alias cakram padat itu sama aja mirip dengan keluarga-keluarganya yang lain, semisal DVD, UFD, disket, sampe kartu memori (MC). Mereka semua sama-sama untuk menyimpan data. Data jenis apa pun itu udah pasti bisa masuk, kecuali data yang kegedean, ya, otomatis ditendang jauh-jauh. Virus yang jasadnya cukup renik, dapat dipastikan bisa nyisip.
Gita mohon maaf aja jika nyebut nama prodak. Kalo kamu beli majalah PCMedia, di DVD/CD bonusnya kamu bisa lihat tulisan “100% Virus Free Protected by PCMAV + CLAMAV“. Itu apa artinya? Artinya, pihak kendali kualitas bonus DVD/CD PCMedia selalu mengontrol bonus-bonus supaya nggak ketularan virus, nggak sebagai pembawa bibit-bibit penyakit ke komputer Anda-Anda semua. Dan yang lebih penting lagi, CD/DVD itu juga sebenarnya nggak aman, sama kayak UFD. Dan yang lebih parah lagi. Kalo virusnya tercetak di CD-Recordable atau CD-ROM. Wah, udah kayak fosil nyamuk di getah pohon, tuh.
Gita, sih, nggak bisa ngebayangin kalo mesti mengalami kejadian seperti di bawah ini.
Data cadangan kesayangan udah dicetak di CD. Kompi yang penyakitan udah keluar dari cuci darah dan fresh kayak masih muda. Eh, setelah diperiksa di laboratorium, CD data kesayangan ternyata juga menyimpan virus. Nah, lho? Mau gimana? Dikasih ke kompi yang udah sehat, ntar sakit lagi. Nggak dimasukin, di CD itu ada data penting. Gita jangan-jangan bisa nangis bombay.
Kesimpulan
Kata Bang Asep, CD ato DVD, meski sama-sama menjalani proses pembakaran saat mentransfer data, sebenernya sama-sama nggak aman seperti MC maupun UFD. Sama-sama bisa bawa bibit penyakit. Yang lebih parah, virus yang tertulis di CD/DVD sangat sulit bahkan nggak bisa disterilkan. Yang pasti, nggak semudah membasmi virus di UFD/MC.
Saran
Kata Mas Damar, kita mesti siapin pelindung buat komputer. Setidaknya, pake antivirus/firewall yang selalu di-update. Kalo nggak medical checkup teratur, sama aja bo’ong. Virus di luaran sana bermutasi tiap saat, sementara obatnya selalu datang di belakang.
Kata Om Ikhwan, jangan beli CD/DVD bajakan ato injeksi lagu/aplikasi/game di konter-konter nggak jelas. Selain katanya dilarang agama (Islam), produsen CD/DVD bajakan itu adalah industri rumah tangga yang umumnya jauh dari higienis. Beberapa memang menggandakan pake mesin di pabrik (dan mudah-mudahan terkontrol), beberapa lainnya pake CD-Writer ato DVD-Writer yang nemplok di CPU (komputer pribadi). Beragam jenis berkas, mulai dari lagu-lagu nasyid sampe film bok*p udah ngendap di sana. Virus pun begitu. Nah, virus-virus ini bisa aja ngikut waktu disalin ke CD/DVD. Waktu diputer di standalone CD/DVD player, kayaknya, sih, nggak ngaruh. Tapi waktu disalin ke kompi buat dijual lagi (karena buka konter HP), virusnya bisa nyebar. Akhirnya, cari korban berupa pelanggan yang mampir buat injeksi aplikasi/game/lagu.
Kalo bosen tiap waktu mesti medical chekup, mending pertimbangkan untuk beralih ke platform Linux. Setidaknya, sampe sekarang, sistem operasi ini terkenal dengan imunitasnya yang sangat tinggi. Terbukti. Setahun terakhir ini Gita hampir selalu Internetan via HP CDMA yang dicolokin ke kompi. Nah, kompinya pake OS Linux. Aman-aman aja, tuh. Nggak ada virus, meski sesekali Gita suka nyasar ke situs-situs “primitif” (yang katanya banyak banget miara virus!). Paling-paling, beberapa teman suka datang buat minta diperiksa UFD-nya. Yah, itung-itung buka klinik periksa virus.
Linux itu sifatnya free, loh. Free di sini nggak selalu free of charge alias gratis, tapi bebas. Bebas digunakan, dibagi-bagiin, bebas pula diubah sesuai selera. Memang, sih, beberapa ada yang bisa didapat gratis dan legal. Kalo ada yang legal dan murah meriah, ngapain pake yang murah meriah tapi nggak legal? Nambah-nambahin dosa aja.

aih…. bener banget
aku kalau lg kena virus trus ga bs diapa2in, biasanya backup data dg burn2 DVD. virus pasti ke DVD nya tuh wahahah
habis format, data2 ga dibalikin dl
tunggu sebulan-2 bulan br deh balikin lg dg asumsi antivirus dah ad yg bs hapus wehehehehe
Smoga ntar mulai bs pake Linux. Soalnya masih bergantung sangat ama sotoshop. Masih belajar pake Gimp. ntar kalau Gimp-nya dah lancar br sotoshop-nya dilepas.